Monday, February 6, 2023

Proofreading Before Launching

 Judul: Proofreading Before Launching 

Resume Ke: 12

Gelombang: 28

Hari/ Tanggal: Jum'at, 3 Februari 2023

Tema: Proofreading sebelum Menerbitkan Tulisan 

Narasumber: Susanto S.Pd

Moderator: Helwiyah, S.Pd.MM

Pengalaman selama ini dalam menulis, saya mempraktekkan mantra sakti Omjay dan Tim Solid nya yaitu 'Tuliskan saja, dan menulis lah setiap hari. Mantra tersebut mudah sekali di ucapkan, namun sulit sekali dipraktikkan. Mungkin karena saya belum terbiasa dan satu lagi karena terlalu perfeksionis.

Entah apakah ada kaitannya antara perfeksionis dan Proofreading, yang jelas, seiring berjalannya waktu, saya masih keteteran untuk bisa menulis & publish setiap hari. Tapi saya tetap optimis bisa meningkatkan produktivitas menulis, karena selalu mendapat bimbingan dari komunitas KBMN. Alhamdulillah.

Materi kali ini bertema "Proofreading sebelum Menerbitkan Tulisan ", dengan narasumber Bapak Susanto S.Pd. Adapun yang bertindak sebagai moderator adalah Ibu Helwiyah, S.Pd. MM. Beliau adalah mentor saya dalam penyusunan buku solo.

Jadi apa itu proofreading? Apakah artinya Pak prof sedang membaca? Untuk lebih jelasnya, mari simak resume ke-12 di KBMN PGRI 28.

Di awal pertemuan, moderator membuka dengan sebuah pantun perkenalan.

Bunga sekuntum Mekar berseri,

Disunting gadis dari Betawi,

Assalamu Alaikum pegiat literasi,

Salam jumpa dengan Bu ewi

Narasumber dan moderator kali ini sama- sama jebolan KBMN, hanya beda angkatannya saja. Jika pak D. (panggilan akrab bapak Susanto) merupakan lulusan angkatan KBMN 15, maka Bu Ewi ( nama panggilan Bu Helwiyah) adalah alumni KBMN 20, satu generasi dengan pak Dail dan jeng Raliyanti. Lulusan KBMN memang terbukti hebat-hebat semuanya. Masyaallah... Tabarokallah....

Bu Ewi menyemangati para peserta KBMN dengan quote- quote :

Bagi pemikir, buah fikirnya hanya akan bersemayam dalam fikiran jika tak diucapkan dan ditulis 

Bagi pembicara, pembicaraannya hanya akan menguap lewat suara bila tak dituliskan

Bagi penulis ,tulisannya akan tersimpan dalam catatan jika tak dipublikasikan.

Bagi penulis media, tulisnnya akan tertimpa materi tulisan lain jika tak dibukukan

Maka,.ucapkan dan tuliskan yang ada dalam fikiran.

 Publikasikan dan bukukan apa yang sudah ditulis,agar banyak orang yang dapat membacanya.

Selanjutnya Bu Ewi mengirimkan foto & link profil narasumbernarasumber.

https://blogsusanto.com/kalimatmu-kepanjangan/

Pak D Sus adalah seorang Guru SDN Mardiharjo Sumatra Selatan. Pendidikan beliau, S1 PendidikanBahasa Indonesia dan PGSD. Beliau seorang ayah dengan 4 anak dan memiliki hobi sebagai penikmat musik keroncong.

Pak D Sus juga menceritakan, bagaimana beliau menjadi narasumber di KBMN, yaitu di KBMN gelombang 19. Materi yang beliau sampaikan juga selalu sama, sehingga materi Proofreading pun dianggap materi yang membosankan. Namun tidak untuk saya pribadi, karena saya baru tahu istilah Proofreading.

Buku solo beliau yang pertama, sebagai prasyarat kelulusan menjadi narasumber di KBMN

Buku solo pertama

Selanjutnya pak D menjelaskan pengertian Proofreading dengan mengirimkan resume dari salah satu peserta KBMN gelombang 27

 https://ahmadfatch.blogspot.com/2022/09/belajar-cara-menulis-pgri-gelombang-ke_19.html?m=0  

Resume dari pak Fatch memang sangat komplit sekali membahas tentang materi Proofreading. Jadi Narsum meminta peserta untuk membacanya.

Proses self editing

Proses menulis ada tiga tahap Proofreading, letaknya adalah sesudah tulisan jadi, jangan ketika tulisan masih setengah jalan.

Karena kemungkinan terus tulisan tersebut tidak jadi

Proofreading memeriksa konten, tata bahasa, kosakata, kaidah-kaidah penulisan sesuai bahasa kita

Proof reading setelah tulisan jadi
Pengertian Proofreading

Alat yang digunakan untuk membantu melakukan proofreading adalah KBBI dan PUEBI yang sejak 16 Agustus 2022 diganti dengan EYD.  Ketetapan ini merujuk pada Keputusan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek Nomor 0424/I/BS.00.01/2022 tentang Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.

Ada beberapa perubahan misalnya:

Perubahan *kaidah, yaitu pengkhususan penulisan bentuk terikat maha- untuk kata yang berkaitan dengan Tuhan*.

Pada ejaan sebelumnya, aturan penulisan *kata terikat maha-* ada yang dipisah dan digabung sesuai syarat dan ketentuannya.

Sementara *pada EYD edisi V, aturan penulisan kata terikat maha- dengan kata dasar atau kata berimbuhan yang mengacu pada nama atau sifat Tuhan, semua ditulis terpisah dengan huruf awal kapital sebagai pengkhususan*.

Contohnya: *Yang Maha Esa, Yang Maha Pengasih, Tuhan Yang Maha Pengampun*. Aturan penggunaan tanda baca, sepertinya tidak ada perubahan

Tips melakukan Proofreading

Silahkan menuju laman:  https://ejaan.kemdikbud.go.id/  berdampingan dengan KBBI untuk melakukan proofreading tulisan kita.

Pak D pun membuat formasi yang berbeda dalam penyampaian materi Proofreading kali ini. Yaitu dengan memberikan tantangan kepada peserta untuk melakukan Proofreading pada sebuah cuplikan tulisan yang dikirim beliau.

Buku yang dipakai untuk tantangan
Cuplikan paragraf sebagai tantangan untuk peserta

Peserta diajak langsung praktik melakukan Proofreading. Bagi peserta yang tercepat dan benar, akan mendapatkan hadiah dari narasumber

Para peserta pun terlihat sangat antusias dengan berlomba-lomba japri ke moderator. 

Tantangan yang masuk admin

Sambil mengoreksi hasil Proofreading peserta, sesi tanya jawab pun dibuka karena waktu yang terbatas.

1.Evridus Mangung

T: 1.Apa bisa dibenarkan menulis sebuah kalimat tanpa mengulangi subjeknya. Misalnya: *Lelaki ditemani senja. Menatap mega tanpa kata.*

2. Didalam pemaparan tentang gambar swasunting disebutkan salah satu aplikasi atau editing tools. Jujur, saya baru mendengar aplikasi ini. Pertanyaan saya, apakah aplikasi ini bisa didownloload? Jika ya, bolehkah dishare linknya atau apakah ada di playstore?

J: 1. Untuk puisi, tiada salahnya, Bapak. Untuk esai, masukkan ke dalam kalimat majemuk.

2. Saya pun baru nemu, Pa. Ha ha ha. Satu di antara 'tools' itu adalah Google Docs: 

Ini sumbernya, bisa Bapak eksplorasi ya, Pak.

https://www.techtoolsforwriters.com/hemingway-app-a-proofreading-tool-for-writers/

2. Imro'atus Sholihah _ Jombang Jatim

T: 1. Selama ini mungkin kita lebih akrab dengan kata _editing_. Apa perbedaannya dengan _Proofreading_?

2. Kemudian lebih penting mana antara _editing atau proofreading_?

Setahu saya di sebuah buku yang dituliskan adalah editor bukan _Proofreader_.

3.Ada tulisan ilmiah dan non-ilmiah, ada fiksi dan non-fiksi. Bagaimana melakukan proofreading terhadap tulisan tersebut yang tentunya berbeda?


J: 1.Benar di buku yang ditulis adalah Editor, bukan proofreader. Tentu dengan alasan ya, Bu. 

Saya kutip dari laman uptbahasa.untan.ac.id

*Proofreading* adalah proses peninjauan kembali sebuah teks dilihat dari aspek kebahasaan dan penulisannya. Tujuannya adalah guna mengecek kembali bahwa teks atau esai yang akan diserahkan sudah bebas dari kesalahan pengetikan (typo), kesalahan ejaan, kesalahan grammar, atau kesalahan-kesalahan mendasar lainnya.

Editing, orangnya disebut editor, memeriksa lebih dari itu. Untuk penerbit Mayor, semoga saya tidak salah, Editor menyesuaikan dengan misi perusahaan penerbitan, standar tulisan. Proofreader  melakukan uji baca pada tulisan.

Kembali mengutip laman uptbahasa.untan.ac.id  >> *dibeberapa jurnal, mereka mewajibkan para penulis untuk mem-proofread artikel mereka terlebih dahulu sebelum dikirim ke editor*

2.Buku nonfiksi yang padat dan bersifat teknis, akan membutuhkan waktu lebih lama untuk mengoreksi daripada yang lain (fiksi). Namun, pada fiksi yang sarat dengan dialog tentu ada aturan-aturan bagaimana menulis dialog dengan tanda baca yang benar. Ini ada dalam buku yang hendak saya jadikan GA. Bisa kunjungi laman berikut.

https://blogsusanto.com/belajar-langsung-praktik-menulis-cerpen-bagian-3-narasi-dan-dialog/

3. Toto - Kota Bekasi

T: Salah satu "tugas" Proofreading adalah memastikan tulisan itu "bisa diterima logika dan dipahami".

Permasalahannya, jika kita melakukan proofreading atas tulisan kita sendiri, pastinya kita merasa semua sudah logis dan dapat difahami. Bagaimana menyiasati permasalahan ini? 

J:*Permasalahannya, jika kita melakukan proofreading atas tulisan kita sendiri, pastinya kita merasa semua sudah logis dan dapat difahami.* Tidak akan terjadi, jika tulisan di-ENDAPKAN dahulu.  Jika cara itu juga kita merasa seperti itu (semoga bukan karena egois ya he he he, berikan kepada orang lain, meminta orang lain untuk membaca). Analoginya, pemain bola akan fokus dan merasa sudah benar menggiring serta menendang ke arah yang benar. Nyatanya, penonton di tribun kayak lebih tahu harus ke mana tuh bola ditendang

4.Astri_ Bekasi 

T: Kapan melakukan proofreading? Apakah pada saat menulis baru satu paragraf atau setelah tulisan selesai? 

J:*JANGAN SEKALI-KALI MELAKUKAN PROOFREADING KETIKA TUILISAN BELUM SELESAI ATAU BELUM JADI HINGGA PARAGRAF TERAKHIR*. 

5.HR. Utami_Semarang

T:1. Apakah urutan prosesnya begini: writing, swasunting (mengedit sendiri), Editing, Proofreading, Cetak/ke Penerbit, Publishing? Atau apakah setelah proses proofreading kembali lagi ke penulis, kemudian langsung ke Penerbit atau setelah proses revising dari penulis langsung ke Pnerbit, dan Publish?

2.Kalau boleh tahu berapa tarif profreader, naskah seperti apa yang memerlukan proses ini, dalam arti yang profesional (misalnya untuk published di Jurnal internasional?

J: 1.Bu Utami, proses proofreading tentu sebelum naik cetak ya. Coba saja, nanti jika buku kita akan naik cetak, naskah akan diberikan kepada penulis kembali.

2. Tentang biaya, tergantung ya Bu. Ibu bisa browsing. Contohnya ini, mungkin sudah naik harganya. Dari laman yang sudah saya kutip sebelumnya, silakan gulung ke atas

Tarif editor

Ini contoh pengalaman seorang penulis

https://yoriyuliandra.com/site/2019/07/11/pengalaman-menggunakan-proofreading-online-berbayar/

6.Farida Lisanti_Musi Rawas

T: Pertanyaan saya, selain typo adakah ciri-ciri lain kalimat tidak efektif sehingga tulisan kita renyah dibaca? 

J: Hindari kesalahan minor yang "mengganggu" kenyamanan pembaca. Pedomani EYD untk penggunaan tanda baca dan tentu saja kosa kata. Kalau kalimatnya muter-muter dengan kosa kata yang itu-itu saja, ya _bosenin_ dan membuat kalimat tidak efektif.

7.Indah Ratna - Banjarnegara

T: Untuk melakukan proofreading apa bisa kita lakukan seorang diri? Misal resume mengikuti pelatihan menulis ini pak. Karena kadang saya merasa diburu dengan waktu agar bisa segera kirim resume. Biar sudah plong kalau sudah ngirim,  sehingga kadang saya tidak pernah mengendapkan dulu, tapi lamgsung kirim. Nah kira-kira apa trik yang efisien agar tulisan kita cepat terkoreksi dan cepat bisa dikirim.

J: Untuk kepentingan pengiriman resume, kadang diburu oleh waktu. Namun, sesudahnya bisa diedit kembali atau diperbarui kok tulisan di blog. Kita bicara lebih banyak untuk tulisan lain selain tugas meresume, misalnya nanti jika kita akan menyatukannya menjadi buku, maka naskah kita selesaikan, sesudah itu, lakukan proofreading sebagaimana sudah dijelaskan langkahnya.

8.Yulis_ Banyuwangi

T: Bagaimana kita bisa fokus dan konsisten menulis lugas dan jelas ketika kita dituntut untuk runtut menulis cerita, dan bagaimana kita menulis yg baik dan benar namun tidak ingin terbebani perasaan apakah tulisan itu salah atau tidak .

J: Anda, penulis sejati. Seharusnya begitu. Tulis saja hingga rampung. Benar, biar tidak lewat begitu saja dan lupa.

Ilmu menulis, diterapkan ketika menulis, misalnya satu paragraf satu ide pokok. Selebihnya, memainkan kosa kata menjadi kalimat yang enak dibaca (pinjam istilah Omjay). Sedangkan tata bahasa, aturan EYD, digunakan setelah tulisan selesai. Jadi, ya, jangan terbebani dengan perasaan. Apalagi rasa bersalah. Ah, emang salah sama siapa, he he he. Semoga menambah semangat.

9.Candra_Jakarta

T: Apakah penulis penulis dulu itu memakai proofreading dalam membuat tulisannya , bagaimana kita yg mempuyai keterbatasan dalam hal sarana prasarana  untuk  Aplikasi yg pak Sus paparkan.

J:Jangan dikira penulis-penulis dahulu tidak melakukan proofreading. Naskah proklamasi juga ada coretannya, tanda dilakukan uji baca atau yang disebut dengan proofreading.

Bagaimana kita yg mempuyai keterbatasan dalam hal sarana prasarana  untuk  Aplikasi Secara manual saja, diprint (dicetak) lalu dibaca ulang, tandai dengan tinta berwarna, misalnya merah atau biru.

Editor manual

Pak D Sus sangat respek dengan semangat para peserta. Hal ini karena, antusiasme dari peserta, hingga membuat jari pemateri keriting untuk menjawab pertanyaan. Alhamdulillah.

Tak lupa, pak D Sus mengirimkan undangan pernikahan anak beliau kepada grup KBMN PGRI 28 

Undangan pernikahan anak pak D

Dan terakhir beliau menutup dengan pantun:

*Berbaris-baris dahulu,* 

*memanjat dinding kemudian,*

*nulis-nulis saja dahulu,*

*lakukan proofreading belakangan*.

Terimakasih Pak D Sus atas ilmu Proofreading nya, mudah-mudahan bermanfaat untuk saya. Dan selamat ngunduh mantu, mudah-mudahan acaranya berjalan dengan lancar. Aamiin.




Friday, February 3, 2023

Rahasia Menulis Cerita Fiksi


 Judul: Rahasia Menulis Cerita Fiksi

Resume Ke: 10

Gelombang: 28

Hari/ Tanggal: Senin, 31 Januari 2023

Tema: *KIAT MENULIS CERITA FIKSI*

Narasumber: Sudomo, S.Pt

Moderator: Bambang Purwanto, S.Kom, Gr, 

Tema KBMN ke-10 kali ini adalah khusus membahas tentang menulis fiksi. Berbicara tentang tulisan fiksi, sejujurnya aku belum pernah membuatnya. Dalam pikiran ku bahwa, menulis fiksi itu, penuh dengan imajinasi dan banyak sekali bahasa-bahasa kiasannya, sedangkan aku sendiri tidak mahir dalam berkata-kata indah.

Yang sudah-sudah, aku pernah menuliskan kisahku sendiri, dengan bahasa yang sederhana dan apa adanya. Dan menurutku, itu bukanlah cerita fiksi, melainkan kisah nyata. 

Nah sebenarnya, apa sih cerita fiksi itu? Narasumber kita Bapak Sudomo, S.Pt, atau yang dikenal dengan Mazmo akan menjelaskan tentang "Kiat Menulis Cerita Fiksi".  Sedangkan yang bertindak sebagai moderator adalah Bapak Bambang Purwanto, S.Kom, Gr, atau biasa disapa Mr. Bams.

Mr. Bams pun mengenalkan pemateri dengan mengirimkan link profil untuk dibaca para peserta. Berikut linknya:

 https://s.id/ProfilSudomoSPt

Menyimak profil Mazmo, beliau sangat low profil sekali. Kalimat tegas dan berulang-ulang muncul dalam blog nya:

"Jangan mengenalku, nanti menyesal"

Untaian kata pada profil beliau, justru membuat pembaca semakin penasaran untuk mengenal seorang Mazmo.

"Aku hanya tidak ingin seseorang menaruh harapan terlalu tinggi hingga ingin mengenalku". Demikian yang tertulis pada profilnya.

Untuk seorang Mazmo, beliau sudah pandai mengajak pembaca untuk mengikuti tulisannya karena seolah terhipnotis untuk terus membaca hingga bagian akhir.

Dari profil beliau, Mazmo, lahir di Sukoharjo Jawa Tengah, 48 tahun yang lalu. Putra seorang penjual jamu, dan saat lahir kondisinya dalam situasi banjir karena luapan dari sungai Bengawan Solo. Pernah mengalami pergantian nama karena sering mengalami sakit-sakitan. Yaitu dari nama Gunarso dirubah menjadi Sudomo.

Menyandang nama Sudomo, ada rasa minder sekaligus bangga.  Karena nama Sudomo adalah nama tokoh nasional, mantan Pangkobkamtib, dan menteri di zaman presiden Suharto.

Si bungsu dari 6 bersaudara, melanglang buana ke serpihan surga di bumi, yakni pulau Lombok. 

Karirnya dimulai dengan menjadi guru honorer di sebuah sekolah SMA swasta, kemudian menjadi guru di SMPN. Hingga mengikuti program guru penggerak, bahkan menjadi ketua komunitas guru penggerak di wilayah Lombok Barat.

Disela-sela kesibukannya, Mazmo tetap menekuni dunia literasi. Prestasi demi prestasipun ditorehkan, seperti:

- Memenangkan lomba menulis bahan bacaan literasi tahun 2016 dan 2019 tingkat provinsi NTB.

- Juara lomba menulis di blog versi indihome tahun 2021

-  Juara favorit menulis di satuguru.id 

- Pemenang video inovatif Implementasi Kurikulum Merdeka tingkat provinsi NTB tahun 2022

Mazmo juga menghasilkan beberapa buku solo, dan beberapa buku penerbit mayor. Seperti berikut ini:


Dalam pemaparannya, Mazmo berbagi dengan menggunakan alur MERDEKA, yaitu Mulai dari Diri, Eksplorasi Konsep, Ruang Kolaborasi, Demonstrasi Kontekstual, Elaborasi Pemahaman, dan Aksi Nyata. Penjelasannya adalah:

 1 | Mulai dari Diri. 

Mazmo meminta peserta untuk menceritakan pengalaman dalam menulis cerita fiksi. Respon dari peserta pun menyerbu gawai sang moderator. Beberapa responnya sebagai berikut:

- Alfiyah Hidayatun

Menulis cerita fiksi, tak terlintas sedikitpun dibenak saya. Kalau membaca cerita fiksi, itu saya suka. Jaman saya usia SMP, uang jajan lebih sering saya gunakan untuk menyewa novel daripada jajan makanan. Tetapi untuk membuat sendiri cerita fiksi.. hhmm.. tidak pernah terpikirkan sebelumnya. 

-Imro'atus Sholihah_ Jombang Jatim. 

Dalam menulis fiksi saya belum mempunyai pengalaman sama sekali. tapi saya sangat ingin bisa menulis fiksi pak dan disini saya masih bingung ide seperti apa yang bagus dalam menulis fiksi. dan masih bingung juga bagaimana cara membuat fiksi yang baik.

- Afida _Sampang,

Saya pernah menulis di FB, cerita fiksi. Namun, saya rasa ceritanya kurang renyah. Di tengah-tengah penulisan ceritanya mbulet, alur maju mundur, campur sari🤭.

Kejelasan watak tokoh bisa diragukan. Bahasa sepertinya kaku..

- Responden 

Menulis cerita fiksi sangatlah sulit bagi saya. Kesulitan mau memulai dari mana, trus alur ceritanya bagaimana. Karena susah berkhayal berimajinasi akhirnya keinginan menulis fiksi ini masih sekedar cita cita. Beberapa waktu yang lalu sempat tergabung dengan sahabat pena yang berkeinginan menulis buku Antologi fiksi bertemakan Ibu Hebat. Tapi sampai saat ini tulisan itu belum kunjung selesai juga. Bahkan baru dapat satu paragraf. Trus berhenti tidak menemukan ide lagi.

-Responden

Cerita fiksi. Itu adalah bagian dari mapel yang aku ajarkan. Harusnya aku bisa menulis.  Tetapi ternyata belum sampai sekarang. untuk menulis belum. Aku orangnya suka menulis yang mengarah pada karya ilmiah. Bagiku menulis fiksi sangat sulit. Gak tahu harus memulai dari mana. Benar-benar berat

Mazmo menyambut antusias dengan respon para peserta yang menceritakan pengalamannya tentang tulisan fiksi.

Narasumber juga menggarisbawahi dari respon- respon tersebut terdapat niat/komitmen, outline/kerangka karangan, tema, memulai menulis, dll.

 2 | Eksplorasi Konsep. 

Selanjutnya Mazmo melanjutkan alur ke-2, yaitu Eksplorasi Konsep. Beliau mengirimkan link untuk dibaca para peserta dan memberikan pertanyaan terkait dengan isi dari materi yang sudah dikirimkan.

https://s.id/MateriSudomo

Isi dari materi yang dibagikan Narsum adalah alasan mengapa harus menulis cerita fiksi, syarat bisa menulis cerita fiksi, bentuk-bentuk cerita fiksi, unsur-unsur pembangun cerita fiksi, dan tips menulis cerita fiksi.

Dalam cerpen tersebut, terjadi diskusi antara Bu Ayu yang kesulitan menulis fiksi dan pak Mo seorang penulis fiksi. Kemudian pak Mo pun memberikan buku hasil karyanya yang berjudul "Membongkar Rahasia Menulis Ala Guru Blogger".

Berikutnya pak Mo pun mengetes hasil pengetahuan Bu Ayu mengenai buku tersebut. Diantaranya,

"Apa saja bentuk-bentuk cerita fiksi", tanya Pak Mo.

"meliputi cerpen, novelet, novela, dan novel", jawab Bu Ayu.

"Aku menambahkan bentuk-bentuk lainnya, yaitu fiksimini, flash fiction, dan pentigraf, yaitu tergantung pada jumlah kata." Demikian penjelasan pak Mo dalam cerpen tersebut.

Narasumber pun menjelaskan lebih lanjut mengenai bentuk-bentuk cerita fiksi yang ada dalam cerpen.

1. *fiksimini*, yaitu fiksi singkat yang hanya terdiri dari beberapa kata saja. Berikut adalah contoh fiksimini yang terkenal _For sale: baby shoes, never worn._Ernest Hemingway

Jika diperhatikan, secuil kalimat itu memiliki maknanya luas dan dalam.

2.*flash fiction*, yaitu cerita kilat dengan kekhususan jumlah kata. Biasanya mengandung plot twist.

3.*pentigraf*, yaitu cerita 3 paragraf

Selanjutnya adalah terkait unsur pembangun cerita fiksi yang perlu ditambahkan adalah 

*premis*. Premis adalah ringkasan cerita dalam satu kalimat.

Contoh premis: Seorang anak yang berjuang melawan penyihir jahat demi kedamaian dunia.

Itu adalah premis dari novel Harry Potter. Kekuatan premis adalah mampu menggambarkan novel yang tebal hanya dalam satu kalimat saja. Premis mengandung unsur, yaitu tokoh, tantangan, tujuan tokoh, dan resolusi.

3 | Ruang Kolaborasi. 

Pada alur ini, Mazmo memberikan beberapa kalimat, untuk dilanjutkan sendiri menjadi satu paragraf nanti di dalam resume.

_Perlahan suara-suara itu menghilang. Dalam gulita aku menggigil sendirian. Mendadak bulu kudukku meremang. Terdengar suara di kejauhan. Semakin lama kian mendekat._Lalu kubaca dengan lirih ayat-ayat Al-Qur'an, hingga hatiku tenang dan suara itu menghilang.

4 | Demonstrasi Kontekstual. 

Pada alur ini, Mazmo meminta agar peserta menuliskan 5 tema yang paling disukai dan kuasai, dan disampaikan dalam resume.

Saya pribadi untuk pengalaman menulis fiksi, pernah menulis, cerita-cerita lucu dalam kehidupan sehari-hari. Untuk tema yang disukai, namun belum tentu menguasai adalah:

1. Pendidikan

2. Dunia kepesantrenan

3. Agama

4. Motivasi 

5. Kisah nyata 

5 | Elaborasi Pemahaman. 

Pada alur ini adalah sesi tanya jawab terkait materi terutama menyangkut hal-hal yang ingin diperdalam lagi. 

1.Evridus Mangung

T: Adakah latihan khusus agar daya imajinasi penulis benar-benar bisa bekerja optimal dalam menyusun sebuah karya fiksi?

J:Saya pribadi tidak pernah melakukan latihan khusus. Latihan khususnya adalah dengan terus konsisten menulis. Konsistensi ini akan membuat seorang penulis terbiasa nyaman menulis dalam kondisi apa pun.

2.Rinrin Siti Maemunah_Bandung Barat

T: Bagaimana cara membuat outline?

J: Penjelasan terkait outline:

- Kerangka disusun berdasarkan unsur-unsur pembangun cerita fiksi

- Menentukan tema agar pembaca mengerti lingkup cerita fiksi kita

- Membuat premis sesuai tema

- Menentukan uraian alur/plot berdasarkan unsur-unsurnya

- Menentukan penokohan kuat berdasarkan jenis dan teknik penggambaran watak tokoh dengan baik

- Menentukan latar/setting dengan menunjukkan sisi eksotis dan detail

- Memilih sudut pandang penceritaan yang unik

3.Imro'atus Sholihah_ Jombang Jatim                                                                                          T: Bagaimana kiat mudah membangun alur atau plot cerita fiksi?

J: 1. Tentukan dulu jenis alur/plot yang ingin digunakan;

2. Memahami unsur-unsur alur/plot yang meliputi Pengenalan cerita, Awal konflik, Menuju konflik, Konflik memuncak/klimaks, Penyelesaian/ending.

Membangun cerita fiksi 

4.Puspa_Tangerang

T:1)Bagaimana menulis fiksi berangkat dari kisah nyata yang apik?

2) Bagaimana membuat / menciptakan karakter tokoh cerita.

Bagaimana bisa membuat masing2 tokoh punya karakter yang kuat?

3) Bagaimana menerapkan POV 1 tanpa ego kita muncul disana?

J: 1. Kuncinya tambahkan bumbu berupa konflik, hambatan/tantangan yang dihadapi tokoh, ending yang menyentuh, dll;

2. Memberikan penjelasan selangkah demi selangkah terkait detail karakter, sifat, watak dengan metode _show don't tell_. Kemudian gambarkan tokoh melalui gaya bahasa, lingkungan tokoh, perilaku

3. Kunci menjaga netralitas penulis POV 1 adalah jangan baper. Tempatkan diri sebagai penulis, bukan tokoh.

5. Rosjida Ambawani_Ciamis.

T: 1. Bolehkah dalam 1 cerita fiksi menggunakan kombinasi jenis alur/plotnya? Misal saat awal cerita menggunakan alur mundur (flashback) lalu menggunakan alur maju?

2. Apa syarat atau ketentuan Premis? Dan di cerita fiksi ditempatkan di bawah judul?

J:1. Boleh

2. Syarat premis memenuhi unsur-unsur, yaitu tokoh, tujuan tokoh, tantangan, dan resolusi. Tidak perlu dituliskan di bawah judul, Bu. Premis adalah garis besar cerita yang akan tulis.

6 | Koneksi Antarmateri.

Pada alur belajar ini, para peserta menuliskan kesimpulan dari materi yang sudah disampaikan dalam resume nanti.

Kesimpulan dalam materi kali ini adalah Bagaimana kiat-kiat menulis cerita fiksi, dengan materi yang sudah dipaparkan, sekaligus diberikan contoh nyata berupa cerpen tentang diskusi menulis fiksi.

Pemaparan materinya sangat bagus, tidak hanya secara teori, namun sudah mencakup contoh dan praktik dalam menulis fiksi.

 7 | Aksi Nyata. 

Alur belajar ini, yaitu terkait dengan penerapan materi malam ini dalam bentuk tulisan, yaitu resume hasil belajar.

Materi lebih lengkap bisa di channel Youtube Mazmo di 

Terimakasih atas ilmunya Mazmo, penyampaian materinya sangat mengesankan. Mudah-mudahan saya bisa mempraktekkannya, dan bisa menjadi penulis yang produktif seperti beliau. Aamiin.


Thursday, February 2, 2023

Histeria Santri Kelas Akhir



Aktivitas santri dalam kesehariannya memang sangat banyak alias padat merayap. Dari hal ibadahnya, berupa wajib sholat jama'ah, ditambah ibadah sunnah lainnya, seperti sholat tahajud, Dhuha, istighosah, dll. Belum lagi sekolah formal dan Madin, serta mengaji dan mutholaah atau belajar malam. Semua itu dilakukan dalam hal menyiapkan dan melatih santri menjadi generasi yang tangguh, kuat iman dan Islam, cerdas, pintar, serta berakhlakul karimah.

Di pondok AIC, ada beberapa tingkatan sekolah, dari SMP, MA, Ma'had Ali, dan Ma'had Aitam. Untuk SMP, ada kelas 1,2,dan 3, sedangkan Madrasah Aliyah (MA) setingkat dengan SMA, adalah kelas 4,5,dan 6.

Adapun Ma'had Aly, setingkat dengan S1, serta Ma'had Aitam, diperuntukkan untuk anak-anak yatim-piatu dan dhuafa, yaitu dari umuran anak SD dan SMP. Kedua lembaga Ma'had Aly & aitam, merupakan program gratis atau tidak berbayar. Bahkan untuk Ma'had Aitam, santri nya mendapatkan uang jajan dari pesantren.

Untuk tingkatan sekolah SMP dan MA, terdiri dari lembaga formal dan Madrasah Diniyah (Madin). Lembaga formal mengikuti kurikulum pemerintah, sedangkan Madin mengikuti kurikulum pesantren. Kedua lembaga ini, berkolaborasi dan berperan penting dalam menentukan kelulusan santri di kelas akhir.

Sebagai santri akhir, masa-masa sekarang ini, yakni semester 2, dalam hal ini kelas 3 SMP dan kelas 6 MA, mereka akan melaksanakan 2 macam ujian. Yakni ujian formal dan ujian Madin. Ujian formal dilaksanakan sesuai jadwal dari pemerintah, yaitu sekitar bulan Maret untuk MA dan bulan Mei untuk SMP. Sedangkan ujian Madin yang disebut dengan ujian komprehensif, dilaksanakan di bulan Februari.

Pelaksanaan ujian komprehensif, dilaksanakan serentak untuk kelas 3&6, dengan jangka waktu kurang lebih 1 bulan. Hal ini karena materi Madin, terdiri dari 4 lembaga yaitu, lembaga Al-Qur'an, kitab salaf, bahasa,dan takmir.

Ujian komprehensif ini, merupakan ujian praktik berupa setoran hafalan dan penerapannya, dengan materi yang sudah dipelajari dari kelas awal hingga akhir. 

Untuk Al-Qur'an, santri menghafalkan beberapa surat sekaligus bisa menjelaskan tajwidnya. Untuk lembaga kitab salaf, santri menghafalkan beberapa nadzom dan praktik membaca kitab kuning. Dan untuk bahasa, santri menghafalkan kosakata dalam bahasa Inggris dan Arab, serta mempraktikkan percakapan dan pidato dalam bahasa Arab dan Inggris.

Untuk tahun ini, karena pelaksanaan ujian komprehensif di bulan Februari, maka sosialisasi nya di bulan Januari.

Malam Kamis di akhir bulan Januari, usai sholat jama'ah Isya'dimasjid. Kepala Madin sekaligus Kabag (Kepala Lembaga) Al-Qur'an mengumpulkan para santri kelas akhir, yakni kelas 3&6. Ust. Ali, selaku Kamadin, menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan target hafalan Al-Qur'an untuk kelas 3&6, termasuk pembagian waktu setorannya.

Kemudian yang paling menghebohkan adalah saat Kabag kitab salaf, Ust. Azhar menyampaikan target hafalan nadzom yang jumlahnya lebih banyak dari tahun sebelumnya. 

Banyak dari para santri menyambut dengan suara riuh tanda tak setuju. Namun Ust Azhar sudah menjelaskan bahwa, target hafalan yang sekarang sebenarnya sama dengan masa-masa sebelum pandemi. Tahun kemarin, jumlah hafalan lebih sedikit, karena selama pandemi, materinya sedikit dan situasinya tidak memungkinkan untuk menghafalkan dalam jumlah yang banyak. Oleh karena itu, karena saat ini kondisi sudah normal, maka target hafalan nadzom pun jumlahnya normal seperti sebelum pandemi.

Histeria para santri pun, semakin menjadi-jadi, namun bisa ditenangkan kembali oleh para Kabag Madin. Para asatidz, tak henti-hentinya memberikan nasihat, motivasi, dan do'a agar para santri semangat dalam belajar dan mengaji. Semua itu adalah bekal mereka dimasa yang akan datang nanti.

Berikutnya, Kabag Bahasa Mr. Pei menyampaikan target-target untuk bahasa Inggris dan Arab. Para santri menanggapi dengan cukup baik, karena untuk bahasa, target hafalannya tidak terlalu jauh berbeda dengan tahun sebelumnya.

Selamat berjuang para santriwan dan santriwati. Mudah-mudahan Allah memberikan kemudahan dalam belajar dan menghafal, mendapatkan nilai yang terbaik, dan yang utama adalah mendapatkan ilmu yang bermanfaat di dunia dan akhirat. Aamiin.

Wednesday, February 1, 2023

Mengenang Masa Awal Berkhidmat

Semenjak bergabung dengan KBMN PGRI 28, yaitu kelas tulis menulis yang dipelopori oleh Omjay guru blogger Indonesia, duniaku terasa lain, tak seperti biasanya.

Seperti halnya sore ini, aku bergegas menyusuri jalan di pesantren menuju "ndalem", istilah untuk rumah kyai & bunyai pemilik dan pengasuh pondok.

Semua yang kulihat seolah memanggilku, pohon tua di depan kantor keuangan menyapaku dengan kenangan tempatku dulu bersembunyi dari kejaran kakak-kakak OSPA. Mading yang terpampang di samping masjid mengedipkan mata, mengingatkan ku bahwa akulah dulu yang menguasai isinya. Tak mau kalah saing, jalanan yang aku telusuri, merengek agar menjadi kisah yang abadi kelak.

Orang-orang yang kutemui menjadi sosok lain, yang unik, dan turut mengantri dalam memori untuk masuk dalam tulisanku. Aku seolah masuk ke masa lampau kemudian terdampar lagi di masa sekarang.

Seperti halnya, baru-baru ini aku mengantar, Indah alumni Asshiddiqiyah yg mengabdi kembali setelah menyelesaikan kuliahnya di Bandung, untuk sowan ke bunyai.

Hujan mengguyur pesantren AIC ( Asshiddiqiyah Islamic College) siang tadi, beberapa jalanan disekitar pesantren masih basah di sore hari. Aku bergegas menuju ndalem, yaitu rumah kyai dan bunyai pemilik dan pengasuh pondok. 

"Mbak Anis, bunyai ada ya?", Kutanya mbak Anis, abdi ndalem bunyai. Karena untuk menemui bunyai, sebagai kepala asrama, aku harus memastikan bahwa bunyai berkenan atau belum bisa menerima tamu. 

"Ada,mis, di ruang makan", jawab mbak Anis sambil menggoreng telur. Kulihat, 2 telor langsung di ceplok dalam 1 wajan. 

"Makasih ya, mbak Anis", Kutinggalkan mbak Anis yang sedang membolak-balikkan 2 telur ceplok dengan lihainya. 

Aku membuka pintu ruang makan bunyai, tampak beliau sedang duduk santai menikmati secangkir minuman.

"Assalamualaikum. Ngapunten bunyai, ada alumni putri, namanya: Indah Sari, yang sebelumnya sampun Kulo sampaikan. Orang tuanya sudah datang. Pripun nggeh?", Tanya ku.

"Iyo, suruh masuk", jawab bunyai.

Akupun mencium tangan beliau, lalu mundur manis tanpa membelakangi. Adab di pesantren sangat dijunjung tinggi, terutama kepada kyai dan bunyai serta seluruh keluarga beliau.

Indah Sari adalah alumni AIC yang lulus 5 tahun yang lalu. Dia melanjutkan kuliahnya ke UIN sunan gunung Djati Bandung jurusan tasawuf & psikoterapi. Indah adalah salah satu santri yang lulus beasiswa PBSB (Program Beasiswa Santri Berprestasi). Beasiswa ini, mewajibkan santri yang sudah lulus kuliahnya, maka harus mengabdi/ berkhidmat di pesantren yang mengirimkan selama 2 tahun.

Kedua orang tua Indah mengantarkan ke pondok untuk menitipkan kembali putri nya dalam rangka berkhidmat ke pondok.

Semua itu seolah mengingatkan ku ketika pertama kali mengabdi usai lulus Aliyah. Bagiku awal nya terasa berat, karena aku baru lulus Aliyah di pesantren AIC dan aku tidak bisa kuliah karena tidak lolos tes. Sedangkan aku masih bertemu dengan adik-adik kelas ku yang tentunya masih mengenalku. 

Bisa terbayang rasa malu, terhina, tidak punya pilihan, semua aku telan mentah-mentah, sehingga rasanya hidupku sangat menyebalkan sekali. Rasa yang aku tuliskan, tidak ada apa-apa nya di banding rasa pahit aslinya. Kurasa itu masa terpahit dalam hidupku saat itu.

Jika indah sekarang mengabdi setelah lulus S1, maka hal itu tidak seberat seperti yang ku alami dulu. 

Pertama, di pondok tidak ada santri yang mengenalnya, karena dia sudah lulus 5 tahunan yang lalu. 

Kedua dia tidak ada tanggungan untuk menyelesaikan tugas kuliah. Sedangkan aku dulu, ketika berkhidmat, tugas kuliah, laporan praktikum, kujalani sambil mengajar dan mengurus para santri.

Insyaallah Indah mentalnya lebih siap dan kuat dalam berkhidmat, dan pastinya dia bisa langsung mempraktekkan ilmunya tentang psikoterapi untuk para santri.

Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti tantangan Februari Ceria. Yaitu tantangan menulis 1 bulan menjadi buku. 

Tantangan Februari Ceria seolah menjadi jalan penghubung memoriku di masa lampau dan sekarang. 

Harapan ku, agar aku bisa mengabadikan kisah- kisah yang ku alami menjadi buku yang bisa bermanfaat untuk banyak orang, minimal untuk pembelajaran dalam hidupku.

Terimakasih KBMN PGRI, Omjay dan tim solidnya. Sukses selalu. Aamiin 


Monday, January 30, 2023

Dilema Penjengukan Santri

 

Asshiddiqiyah pusat Jakarta, dengan area yang tak sebesar pesantren cabang, terlebih tempatnya ditengah ibukota, disamping jalan besar. Di depan Pondok, merupakan jalur busway dengan koridor nama pesantren "Asshiddiqiyah".

Secara letak wilayahnya, bisa dibayangkan bahwa Asshiddiqiyah merupakan tempat yang penuh dengan hiruk pikuk kendaraan, bahkan bisa dibilang jalur utama lalu lalang kendaraan. Jadi suara bising kendaraan sudah menjadi hal biasa. 

Nah, tempat yang ramai, area yang terbatas ditengah kota menjadi tantangan sendiri bagi pengelola pesantren. Dalam hal ini mengatur tentang Penjengukan santri putra dan putri. Sebenarnya lebih kepada ketegasan pesantren untuk menegakkan peraturan sih. 

Masalahnya, karena posisi pesantren dengan dinamika wali santri ibukota, terkadang pihak pesantren cenderung mengalah dengan wali santri. Artinya banyak hal-hal yang dipertimbangkan agar ketemu win-win solution.

Contohnya, ketika peraturan penjengukan putra dan putri di gilir selang- seling seminggu sekali putra, Minggu berikutnya putri. Pada kenyataannya, fakta dilapangan, saat jadwal putra, beberapa santri putri ikut dijenguk, karena adik kakak putra & putri. Akhirnya win-win solutionnya adalah disediakan tempat khusus yaitu di pendopo, jika adik kakak, laki dan perempuan.

Kemudian berkembang lagi, terjadi percampuran cewek & cowok saat penjengukan, modus nya adalah si anak membawa temannya lagi, terkadang wali santri juga melindungi dengan dalih masih saudara. Belum lagi, ada juga wali santri yang mendukung anaknya pacaran, dsb.

Wapri pak Lurah

Penanganan untuk penjengukan ini, selain dari peraturan yang sudah dibuat dan disosialisasikan, berikutnya memang pengontrolan.

Wapri kepala keamanan

"Mis, minta bantuannya, banyak anak putri yang dijenguk, padahal sekarang jadwal putra", Ust. Ibnu keamanan menelpon ku di siang bolong.

 "Siap, Ust. Ibnu, sudah ngasih tau Bu Ikha kan?".

Tanpa menunggu lama, aku segera bergegas menuju ke depan.

Area parkiran mulai ku jumpai beberapa santri putri dan ortunya.

"Jadwal cowok kok ada disini, neng", ku tanya si  kelas 1.

"Ortu saya bisanya hari ini mis", jawab nya.

Kulihat mamanya memberi tanda maaf dari tempat parkir motor. Aku pun membalas hal yang sama.

"Mohon maaf Bun, sekarang jadwal putra, putri tidak boleh dijenguk", jelasku.

"Iya mis, ini saya langsung pulang", jawab beliau sambil mengeluarkan motor yang diparkirnya.

Kulihat lagi dimasjid, di aula, bahkan sempat ngobrol dg wali santri kls 6 di tangga masjid, dengan alasan Minggu kemarin tidak bisa nengok.

Sedangkan yang di aula, sepupu cewek cowok semua diarahkan ke pendopo

Padahal sebenarnya untuk sepupu tidak diperbolehkan. Tapi sangat susah sekali.

Penjengukan di aula yang masih campur

Tetapi minimal, santri putri tidak boleh di area aula / masjd, melainkan tempat khusus yaitu pendopo.

Beberapa cara lain untuk meminimalisir percampuran penjengukan putra putri. Yaitu menggembok gerbang putri, meski wali santri/ anak bisa saja lewat lapangan/masjid. 

Sebenarnya agak dilema juga sih, ketika sudah sosialisasi, sudah dijaga, masih saja kecolongan. Karena posisi masjid/ lapangan bisa diakses untuk jalan, meski gerbang putri sudah di gembok. Jadi intinya pengontrolan oleh keamanan dan beberapa wali asuh tetap dibutuhkan.

Wallahu a'lam bis showab


Sunday, January 29, 2023

Nulis Seasyik Ngemil

Judul: Nulis Seasyik Ngemil

Resume Ke: 9

Gelombang: 28

Hari/ Tanggal: Jum'at, 27 Januari 2023

Tema: Writing is Easy 

Narasumber: Prof. Ngainun Naim

Moderator: Lely Suryani, S.Pd. SD

Alhamdulillah, dari hari ke hari, saya semakin termotivasi untuk selalu menulis, tapi hanya sekedar menulis pribadi, belum sampai pada penayangan di blog. 

Semuanya butuh proses hingga saya merasa percaya diri untuk menampilkan di blog. Dan para narasumber yang selalu mencekoki dengan motivasi bahwa menulis itu mudah, pokok nya tulis saja, akan menjadi amunisiku untuk tidak putus asa mewujudkan impian bisa menerbitkan buku solo yang bisa bermanfaat untuk orang banyak.

Apalagi tema kali ini sangat ngompori untuk selalu menulis, yaitu "Writing is easy" dengan narasumber Prof. Ngainun Naim. Dan dimoderatori oleh bunda Lely Suryani, S.Pd. SD, yang sepak terjangnya di dunia kepenulisan juga luar biasa lincah dan lihai.

Bunda Lely, merupakan orang yang terpilih dalam menuliskan biografi sosok founder KBMN, siapa lagi kalau bukan Omjay. Selain itu juga dipercaya untuk mengedit buku Omjay dan hasilnya diterima oleh perpustakaan nasional. Hingga lahir lah 2 buku biografi Omjay di waktu yang sama.


2 buku biografi Omjay

Berikutnya, moderator memperkenalkan narasumber kita yang bukan saja seorang dosen akan tetapi juga seorang kyai. Penulis produktif, yang hingga saat ini sudah memiliki 47 buku dan ratusan artikel & jurnal ilmiah.

Profil beliau juga dibuat oleh kampus beliau:

"Malam ini saya mendapatkan amanah itu menyampaikan materi WRITING IS EASY?. Saya tidak akan menjelaskan bahwa menulis itu mudah atau sulit. Saya hanya ingin mengajak Bapak Ibu sekalian bisa menulis. Caranya satu: dengan menulis." Demikian Prof. Ngainun yang merupakan guru besar IAIN Tulungagung memulai materi nya.

Namun pertanyaannya adalah, "Apa yang mau ditulis?". Prof Ngainun pun membagikan tulisan sederhana beliau yang terdiri dari beberapa paragraf tentang suasana ramadhan di Alun-Alun Trenggalek tempat beliau tinggal.

https://ngainun-naim.blogspot.com/2016/06/suatu-sore-di-bulan-ramadhan.html.

Ada lagi tulisan sederhana tentang kisah pertemuan beliau dengan seorang sahabat yang hanya kenal di WA.

 https://www.spirit-literasi.id/2022/12/dari-wa-ke-dunia-nyata.html.

Dari kedua tulisan tersebut, inti yang ingin disampaikan Narsum bahwa salah satu kunci menulis yang mudah adalah:

(1) Menulislah hal-hal sederhana yang kita alami.

Pengalaman hidup sehari-hari itu sumber tulisan yang subur. Takutlah jika tidak menulis

(2): Jangan menulis sambil dibaca lalu diedit, karena itu akan menjadi hambatan psikologis dalam menuangkan pikiran.

Nulis itu ya nulis, keluarkan saja apa yang ada dalam pikiran secara bebas.

Nah, selesai menulis atau karena sudah habis yang mau ditulis, tinggalkan dulu. Endapkan dulu, tidak usah dibaca. Cari suasana psikologis yang berbeda.

Saat berbeda, misalnya nulisnya pagi, maka saat sore baru dibaca. Cermati kalimat demi kalimat. Tambahkan ide yang ada jika memang perlu ditambah. Jika ada typo, perbaiki.

Sebelum mengunggah ke blog atau Kompasiana, baca ulang tulisan sekali atau dua kali. Minimalkan hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita, karena tulisan kita adalah jejak kita.

Berikut ini contoh tulisan beliau yang di edit beberapa kali:

https://www.kompasiana.com/ngainun-naim.berbagi/63d1f30408a8b51db6795d52/menjadikan-literasi-sebagai-tradisi.

Ada beberapa yang komentar bahwa tulisan Prof. Ngainun berat-berat. Padahal beliau menulis baik ringan maupun berat. Berat karena untuk kepentingan akademik, dan ringan untuk kepentingan publik, sebagai wujud kecintaannya dalam menulis.

(3) menulis tentang perjalanan.

Ini juga jenis tulisan yang mudah dibuat.

Berikut ini contoh catatan beliau ke Kupang sebelum pandemi.

https://ngainun-naim.blogspot.com/2020/02/senja-di-pantai-warna-oesapa.html.

Kalau ini, perjalanan hidup beliau menjadi guru besar termuda

https://www.spirit-literasi.id/2022/01/kado-sangat-indah-di-awal-tahun.html.

4. Satu lagi kunci menulis yang membuat menulis menjadi mudah, yaitu MENULIS SECARA NGEMIL. Sedikit demi sedikit.

Untuk blog atau Kompasiana, beliau menarget minimal 3-5 paragraf. Untuk artikel jurnal, beliau menarget minimal 1 paragraf. Menulis nya bisa berbeda waktu dan tempat. 

Berikut ini ditulis ketika berada di pesawat:

 https://www.spirit-literasi.id/2022/04/jejak-dari-bukittinggi-dari-ngarai.html.

Sesi tanya jawab:

1. Dewi_Seruyan Kalteng. 

T: 1.Bagaimana caranya agar kita bisa memberikan keyakinan kpd mareka bahwa menulis itu sebenarnya tidak susah? Sehingga kita bisa mengajak orang-orang disekitar kita juga menyukai literasi terutama menulis ini. 

2. Apa ada contoh penulisan jurnal?

J: 1. Saya sejauh ini berpikir terbalik. Saya mewajibkan diri saya terus menulis. Orang lain itu tidak saya paksa untuk menulis. Jika saya menjadi teladan, mereka akan terinspirasi dan mengikuti. Sejauh ini saya memiliki banyak sekali "murid" yang menulis setiap hari. Ya, setiap hari.

2.Contoh penulisan jurnal: 

https://www.spirit-literasi.id/2022/08/menulis-penelitian-dan-artikel-jurnal.html.

Google Scholar Prof. Ngainun, terdapat ratusan artikel jurnal beliau.

https://scholar.google.co.id/citations?user=SbPI0fkAAAAJ&hl=id&oi=ao.

 2.*Evridus Mangung- dari NTT* 

T:Bagaimana cara untuk mengatasi hal-hal seperti kesulitan memulai menulis pada alinea awal. Sudah ada gagasan dalam kepala tetapi tidak tahu bagaimana menulisnya. Hal ini terjadi di awal-awal sebelum menulis pargaraf pertama dalam tulisan.

J:  Kesulitan itu biasanya karena persoalan psikologis. Takut jelek, takut salah, dan seterusnya. Itu harus dilawan. Caranya pokoknya ya ditulis. Bisa dilihat dari blog saya. Saya selalu mengawali tulisan dengan prolog sederhana. Ini sebagai pintu masuk untuk paragraf demi paragraf berikutnya. Kata salah seorang penulis: cara melawan kesulitan adalah dengan melakukan.

3. Imro'atus Sholihah_MTsN 4 Jombang Jatim                                                                         T: Bagaimana agar menulis itu benar-benar mudah?

J: Langkah awalnya itu dipaksa. Ya, tidak ada yang benar-benar mudah dalam hidup ini. Saya bisa naik sepeda itu karena dipaksa. Ya, beberapa kali jatuh. Tapi sekarang benar-benar mudah. Ndak mikir.

Jadi jika menulis ingin benar-benar mudah, paksalah untuk menulis setiap hari. Jika mampu menulis setiap hari selama tiga bulan, buktikan nanti akan ketagihan.

4. Farida Lisanti_Kab. Musi Rawas

T: Apakah dalam penulisan blog ada aturan yang mengikat? atau suka-suka kita, karena saya lihat tulisan pada blog rapi, pakai rerata tengah, sedangkan pd kompasiana rerata kiri padahal sdh diedit beberapa kali oleh Prof.

J: Semua tulisan saya usahakan untuk saya edit sebaik mungkin. Blog pertama: blogspot. Ini blog gratis. Jadi tata letak dan sebagainya sederhana. Blog kedua: spirit literasi itu berbayar. Jadi lebih bagus dari sisi isi dan tata letak. Kalau Kompasiana, saya tidak tahu. Tahunya saya unggah tulisan, sudah.

5.Teguh Wiyono_bekasi

T: Jika menyimak paparan prof. Sepertinya menulis itu memang mudah.Namun sering kali, kita terjebak dengan ego kita.. masa tulisan yang diangkat  cuma kayak gitu..bagaimana menyikapi hal ini prof?

J:Lawan terbesar penulis adalah diri sendiri. Itu butuh perjuangan. Saya juga mengalaminya. Seiring perjalanan waktu, saya mengabaikan itu. Pokoknya saya menulis saja. Kualitas itu akan meningkat seiring dengan banyaknya karya yang kita hasilkan. Tentu juga harus belajar tanpa henti. Saya sampai sekarang masih terus belajar, mencari informasi, menonton YouTube, membaca, dan terus menulis. Jadi teruslah menulis. Bagaimana kualitas bisa meningkat jika berhenti menulis?

6. Toto - Kota Bekasi

T: Jika nulisnya nyicil, saya sering kehilangan orientasi, jadi mesti ngumpulin lagi bayangan tentang apa yang tadi mau ditulis. Adakah cara untuk mengatasinya? 

J: Tentu ada. Jadi biasakan membuat TEMPLATE atau semacam ancangan (kerangka) sederhana saat membiasakan menulis secara nyicil. Misalnya: Saya mau menulis tentang: 

EMPAT HAL YANG MUDAH DITULIS. 

Paragraf 1: buat panduan: Menulis Itu mudah apa sulit?

Paragraf 2: Menulis yang dialami.

Paragraf 3: Menulis Perjalanan

Dan seterusnya. 

Jadi setiap paragraf sudah ada kata kuncinya biar tidak liar ke mana-mana. Itu memudahkan kita dalam mengeksekusi ide saat memilih metode NYICIL

7. Sri Mulyati_ Cirebon

T: Kalau kita menulis setiap hari secara Ngemil. Apakah dgn judul yang berbeda bisa d buat sebuah buku???

J:Sangat bisa. Tinggal tulisan demi tulisan dikumpulkan. Diberi judul, kata pengantar, daftar isi dan biodata penulis. Sudah jadi buku. Banyak buku, termasuk beberapa buku saya, yang merupakan kumpulan dari menulis setiap hari.

8.Ika Yulia_Kalteng

T: Menurut Prof, ketika kita akan menulis dengan tujuan untuk di share di blog atau media manapun yang nantinya akan dibaca banyak orang, sebaiknya mengambil tema harian yang kita alami (seperti kiat dari Prof.) Atau mengangkat tema yang tengah booming.

J: Bisa dua-duanya. Intinya pilihlah yang kita bisa. Jika booming tetapi ndak bisa menyelesaikan tulisan ya jangan dipilih. Tulislah sesuai yang kita mampu.

9. Nurkhotijah_Wonosobo

T: Bagaimana cara memunculkan ide supaya bisa menulis dengan sudut pandang yang berbeda, intinya punya kesan yg lebih bermakna?

J:Banyak membaca. Banyak berlatih. Terus menulis. Hanya itu cara yang saya praktikkan. Tidak ada yang instan.

10. Rahman_ Sumenep.  

T:  Prof. Ditengah kesibukan Prof Naim masih bisa enjoy dan membagi waktunya walau dalam perjalanan masih bisa menghasilkan sebuah karya dan cerita yang bagus. Apakah ada hal yang bisa kami lakukan sebagai penulis pemula agar bisa rilek menulis. Terkadang konsentrasi buyar disaat asik menulis namun tiba-tiba ada gangguan datang tiba-tiba. Kedua, kami masih sulit membagi waktu. Terkadang butuh suasana sepi ide saya baru muncul dengan natural. 

J: Saya berusaha menikmati semua yang saya kerjakan. Kesibukan itu bukan hambatan menulis. Kuncinya komitmen yang dijalankan dengan riang gembira. Jika ada orang beralasan sibuk lalu tidak menulis, saya hampir yakin ketika banyak waktu luang pun juga tetap tidak menulis.

Konsentrasi itu soal latihan. Sebaiknya memang ketika menulis, HP dimatikan. Jadi fokuslah dan teruslah berlatih.

11. Hilman_Kep. Babel

T: Saya pemula dalam menulis, tapi koq nafsu banget nulis yang berat berat, dan betul hasilnya gak pernah selesai _tuh_ tulisan. Bagaimana cara menundukkan nafsu tersebut  prof?

J: Nafsu itu bukan untuk dibunuh tetapi dikelola. Sekarang turunkan target. Jangan yang berat dulu. Imbangi yang sederhana dan ringan tetapi selesai. Itu namanya tulisan berbasis otak kanan. Nah, yang berat itu basisnya otak kiri. Mulainya sebaiknya dari otak kanan. Nanti yang otak kiri akan ikut dengan sendirinya. Selamat mencoba.

12. Candra_ Jakarta

T: Apakah metode  menulis mengemil ini efektif prof , terutama bagi kami yg pemula?

J: Metode itu alat. NGEMIL itu metode. Efektif atau tidak itu ya tergantung kita yang menerapkan. Kalau untuk saya dan beberapa penulis, cukup efektif. 

13.Afida_Sampang

T: Prof, Jika menulis dari hal-hal yang kita alami, apabila yang kita alami begitu datar, biasa-biasa saja, tidak ada yang spesial, bagaimana tulisan kita menjadi menarik untuk dibaca?

Bagaimana cara menjadikan apa yang kita alami itu menjadi sesuatu yang spesial, yang bisa dijadikn ide untuk menulis?

Menjadikan cerita tidak spesial menjadi spesial bagaimana prof?

J: Tentu harus banyak membaca, mengamati dan menganalisis tulisan demi tulisan orang yang menulis hal-hal semacam ini. Membaca itu amunisi menulis. Banyak membaca membuat imajinasi kita kaya. Pilihan kosakata bervariasi. Data biasa mampu diolah secara luar biasa. Kuncinya memang sering latihan. Tidak ada yang langsung baik. Butuh terus berlatih agar yang awalnya biasa menjadi luar biasa.

14. Nurmiati_ Temanggung

T:  (1) kapan kita harus mengutip karya orang lain? bagaimana tips mengutip karya orang lain? 

(2) Bagaimana mensiasati buku rujukan harus yang terbaru, sedangkan buku cetak terbitan lama?

J: (1) Kalau ini sudah masuk kategori ilmiah populer, seperti beberapa tulisan saya di Kompasiana. Kapan harus mengutip? Ya ketika kita memang merujuk ke pikiran orang lain di sebuah buku. Jika itu memang murni pikiran kita ya tidak perlu mengutip. Syaratnya harus betul-betul pikiran kita. 

(2) Sekarang ini tersedia banyak sumber referensi online.

https://scholar.google.co.id/.   

https://www.mendeley.com/

 https://www.academia.edu/

Di situs itu banyak buku dan artikel yang bisa kita download gratis. Itu mengatasi buku cetak lama.

15. Dyah_ Kabupaten Bandung Barat

T: saya penulis pemula, jadi masih banyak rasa takut untuk memposting tulisan di blog, apakah ada etika menulis secara online? karena tulisan kita dibaca oleh orang banyak, takutnya ada yang tersinggung dsb

J: Sepanjang tulisan itu karya kita yang tidak bertentangan dengan SARA, ya tidak masalah. Musuh terbesar penulis itu diri sendiri. Misalnya takut, malu, kuatir dan sejenisnya jika tulisan kita diposting. Jika ingin jadi penulis, abaikan hal-hal semacam itu. Dikritik, biasa. Itu sarana untuk memperbaiki tulisan kita. Saya sudah kenyang kritikan dan review. Justru itu, menurut saya, jalan untuk maju.

16. Agustin_Jakarta, 

T: Prof... Apakah tulisan yg kita tuliskan harus mengalir begitu saja dengan melihat apapun?  Lalu, haruskah tulisan kita ada kandungan manfaat atau hikmah untuk pembaca? 

Karena, banyak tulisan yang saya baca, kosong seperti tulisan saya prof. Bagaimana Prof menanggapinya?

J: Silahkan baca artikel saya

https://www.spirit-literasi.id/2022/11/strategi-menulis-tentang-perjalanan.html

17. Suhaimi. 

T: Bagaimana supaya tulisan yang kita tulis dimuat di jurnal. 

Karena Kompasiana tidak bisa jadi angka kredit. Jurnal sudah pasti bisa. 

J: Ada beberapa tulisan saya di blog ini: 

 https://www.spirit-literasi.id/2022/09/slot-dan-waktu-terbit.html.

18. Yoyon Supriyono_ Cirebon

T: Adakah syarat atau ketentuan agar tulisan bisa dimuat di jurnal?

J: Baca artikel-artikel ini ya:

 https://www.spirit-literasi.id/2022/09/kunjungi-jurnal-tujuan.html.

 https://www.spirit-literasi.id/2022/09/penyebab-penolakan-artikel-jurnal.html.

 https://www.spirit-literasi.id/2022/09/dari-lima-belas-menit-hingga-lima-belas.html.

19. Wahyuning_ Jakarta

T: Ngemil menulis sering saya lakukan baik di blog, kompasiana, maupun di komputer saja. Tapi, ketika dipilah2 untuk menjadikannya sebuah buku, saya malah bingung untuk membuat judul yang tepat. Bagaimana menentukan judul buku yang tepat dari cemilan tulisan tersebut?

J: Bisa memakai judul umum. Misalnya KOMPILASI CATATAN HARIAN. Jadi temanya kan sangat umum.

Pilihan lainnya, mulai sekarang coba rancang bab demi bab yang temanya berdekatan, lalu cicil secara ngemil, jadinya nantinya mudah jika dijadikan sebagai buku

20. Rosjida Ambawani - Ciamis.

T: Menulis hal-hal yang dialami dengan cara ngemil apakah berlaku juga bagi kisah perjalanan atau rekreasi?  Mengingat jika kita menuliskan kisah perjalanan saat bbrp waktu  sudah selesai melakukan perjalanan tsb maka nuansa/greget cerita kita kurang terasa. Bagaimana Prof?

J:  (1) Saya sering menulis kisah perjalanan secara ngemil.

Tulisan ini selesai dalam 4 hari.

 https://www.spirit-literasi.id/2022/12/surabaya-sunan-bungkul-dan-jejak-ilmiah.html.

Bukan tulisan yang panjang, tetapi saya memang menulisnya secara ngemil di sela mengajar, menguji, review riset, dan banyak kegiatan lainnya.

Soal menarik atau tidak, greget atau tidak, ya itu memang kembali kepada kemauan kita untuk terus mengasahnya.

Namun ada juga yang selesai dalam sebuah perjalanan.Ini misalnya:

 https://ngainun-naim.blogspot.com/2019/08/empat-keunikan-shalat-jumat-di-masjid.html.

Alhamdulillah, begitu banyak pertanyaan dan narasumber menjawab dengan sabar dan inspiratif. Dari pertanyaan para peserta KBMN sebenarnya jawabannya kurang lebih intinya adalah sama yaitu konsisten dan komitmen, serta jangan pernah berhenti untuk belajar. 

Bahkan di akhir materi, pernyataan sederhana beliau adalah 

"Mari praktik menulis. Teori menulis itu mudah. Apa betul mudah? Mari menulis"

Terimakasih Prof. Ngainun Naim, sukses selalu untuk bapak.


Saturday, January 28, 2023

Write and Publish Every Day

Judul: Write and Publish Every Day

Resume Ke: 8

Gelombang: 28

Hari/ Tanggal: Rabu, 25 Januari 2023

Tema: Komitmen Menulis di Blog 

Narasumber: Drs. Dedi Dwitagama,M.Si.

Moderator: Sigid PN,SH

Berada di komunitas KBMN, bagi saya adalah menjaga komitmen agar selalu menulis. Meski saat ini masih belum bisa maksimal, tapi saya optimis bisa menjaga komitmen untuk selalu menulis. Terlebih lagi, support dari teman-teman KBMN, inspirasi dari pemateri & motivasi dari  tim solid Omjay. Semuanya paket komplit, tinggal diri ini bisa menjalankan dengan serius & Istiqomah. Semoga Allah memberikan kemudahan. Aamiin.

Tema kali ini adalah "Komitmen Menulis di Blog". Dengan narasumber yang sangat inspiratif, Bapak Drs. Dedi Dwitagama,M.Si. dan dimoderatori oleh Bapak Sigid PN,SH.

Berbeda dengan pertemuan-pertemuan sebelumnya, yang biasanya pakai WAG, kali ini pertemuan dilakukan via Zoom. 

Di awal pertemuan pak Dedi mengungkapkan fakta yang menyedihkan. Beberapa fakta tentang guru adalah sebagai berikut: 

1. Tidak terlacak di google.

Ketika ada guru idola/ profesor favorit kita, ketika dicari di Google tidak ditemukan. Padahal mencari di google dengan kata kunci sandal jepit ternyata ada.

Sandal jepit mudah dicari di Google 

Kemudian dengan berdalih, tidak ditemukan di google karena jaman mengajar dulu belum ada internet. Mengapa, Thomas Alfa Edison, yang ada di jaman lebih dahulu dibanding guru idola/ profesor favorit senior, bisa dicari di internet. Bahkan mencari wajah gajah Mada,di zaman Majapahit ada di internet.

Hal itu artinya, bukan karena masalah tidak ada internetnya, sehingga tidak diketemukan di google, melainkan aktivitas kita dalam memanfaatkan internet lah yang bisa dilacak oleh google.

Menurut narasumber bahwa banyaknya guru saat ini, hanya sedikit yang menjadi guru hebat. Seperti menjadi guru penggerak, guru teladan, guru berprestasi, guru inti, dsb.

Mengapa hanya sedikit? Karena mayoritas guru tidak produktif. Produktif dalam hal ini adalah menghasilkan postingan.

Berdasarkan pengalaman pak Dedi sendiri, bahwa saat ini beliau sudah menghasilkan 7000 postingan. Dan target beliau adalah 1000 hari posting tanpa henti. Dan jika bisa berturut-turut selama 3 tahun.

Saat ini presentasi beliau ke-1204

Produktif itu jika apa yang kita lakukan memberikan hasil/ manfaat. Yang terpenting adalah menjadi produktif dulu. Selanjutnya adalah menjadi sesuatu yang bisa berupa buku/ blog/ cuan.


Jika kita produktif selama setahun berturut-turut, maka kita akan menjadi hebat. Dua tahun berturut-turut, maka kita akan menjadi luar biasa. Tiga tahun kita produktif berturut-turut, mengerjakan satu bidang dengan konsisten, kita akan menjadi ahli. Dan ketika kita menjadi ahli, maka pekerjaan yang mencari kita, bukan sebaliknya.

2. Fakta berikutnya adalah mayoritas guru adalah minimalis dan seragam. Yaitu yang penting tepat waktu, mengajar, dan mengerjakan rutinitas harian guru.

Mengikuti KBMN termasuk salah satu hal keluar dari zona aman. Jika Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Dimana namanya? Yaitu di dunia Maya.

3. Terlalu serius:

Menjadi guru tidak melulu ditagih RPP, silabus, atau administrasi lainnya. Akan tetapi juga karya dan prestasinya.

Menjadi produktif bukan berarti terlalu serius, melainkan kita punya waktu sendiri untuk berkreasi dan berkembang.

Ciri-ciri orang hebat adalah produktif, punya visi, misi, dan perencanaan 

Jika alasannya tidak punya waktu, maka bekerjalah secara efisien. Tanya dengan orang yang visinya bagus dan harus percaya diri 

Tips konsisten menulis 

1. Tentukan tujuan 

2. Buat out line

3. Mulai menulis

4. Selesaikan 

5. Upload 

6. Ikut komunitas: baca tulisan orang, Perkenalkan diri, Cerita kan karir, perjalanan 

7. Punya network 

Beberapa ide menulis:

1.Foto suatu tempat seperti: sekolah dll, yang di upload di Instagram, ditulis kembali ke blog agar caption lebih panjang berupa cerita agar diketemukan anak-anak suatu saat nanti. Karena bisa jadi bangunan-bangunan tersebut hilang, namun masih punya kenangan.

Upload ke media sosial, agar kita meninggalkan jejak. Jangan sampai kalah dengan sandal jepit.

Instagram Narasumber 

2. Video situasi di kelas harus di dokumentasikan di You tube, kemudian di tulis di blog 

Jika menulis dibuku kelemahannya, saat ini, orang jarang membawa buku, semua beralih ke internet.

Era sekarang adalah eksis di media sosial.

3.Memperkenalkan siswa di blog, buat reportase di Ig di blog.

4.Karya anak-anak yang banyak, bisa berupa cerpen atau puisi, bisa ditulis di blog, dengan mencantumkan nama gurunya dan sekolah.

Tidak ada keringat yang sia-sia, semua pasti bisa menghasilkan kesuksesan asalkan konsisten.

Sesi tanya jawab 

1.Musiroh

T: Apa kelemahan menulis di Kompasiana & blog pribadi.

J: Kelemahan berada di Kompasiana, suatu saat bisa hilang. Makanya di tulis di blog pribadi dengan dimodifikasi dan ganti foto serta judulnya.

2. Heri

T: Motivasi untuk penulisan. Bagaimana survive menghadapi teman yang nyinyir?

J: Alternatif jawaban suka- suka aja. Banyak manfaatnya Networking dengan banyak teman.

3. Afif

T:1. Cara membuat template yang menarik di blogger.

2. Menumbuhkan kecintaan murid untuk blog

J: 1. pakai bahasa coding, pelajari caranya

2. Paksa untuk dapat nilai, dengan menugaskan melalui blog.

4. Wi agung

T: Bagaimana menghasilkan uang dari blog

J: Googling blog yang sudah sukses dan lakukan ATM (Amati, Tiru, Modifikasi)

5.Yuni

T: Bagaimana jadi blogger profesional, menjaga komitmen? Dengan posisi sebagai Pengawas sekolah dan bagaimana cara memanage media sosial?

J: Jika sebagai pengawas sekolah, bisa menugaskan sekolah yang di awasi, untuk membuat 3 alinia tentang sekolahnya.

Tahun berikutnya, tolong diperbaharui tulisan tentang sekolah

Buat akun Tik tok 10: tentang masing-masing guru, dsb.

6. Hilman

T: Apa kendala di awal menjadi penulis, pengalaman yang TDK menyenangkan

J: Pengalaman yang tidak menyenangkan, pernah ditegor seorang profesor karena puisi yang viral berjudul "Guru bodoh, nafsu TKD,".

Beliau dianggap menghina guru, padahal ternyata sang profesor belum pernah membaca tulisan tsb

Pengalaman yang menyenangkan: berkesempatan mengikuti event internasional dan berkeliling Indonesia dengan gratis.

7. There:

T: 1. Bagaimana tips memberikan motivasi menulis yang menarik kepada orang lain?

2. Bagaimana cara mengontrol tulisan kita benar atau salah?

J: 1. Untuk memberikan motivasi, harus mencontohkan terlebih dahulu, yaitu memiliki buku solo, sehingga mudah untuk mengajak orang lain.

2. yang penting tulisan jadi, dan upload. Seperti Raditya tidak ada kaidah penulisan, dan justru akan menjadi ciri khas penulisnya.

Jangan berpikir kesempurnaan.

Tema kali ini cukup menginspirasi saya yang lemah dalam meninggalkan jejak digital. Keinginan sih ada, hanya butuh kekuatan paksa untuk melakukannya.

Terimakasih pak Dedi, yang sudah menginspirasi kami dengan berbagai macam cara & ide untuk menjadi produktif. Dan agar kami dikenal oleh murid-murid dan orang banyak, yang tak terbatas oleh ruang dan waktu. Mudah-mudahan menjadi jalan agar lebih bermanfaat untuk orang banyak. Aamiin.