Siang ini, ku temui mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah ciputat. Kak Gina, demikian aku memanggilnya, mahasiswi semester akhir dan saat ini menyelesaikan tugas akhirnya di bidang penyuluhan. Skripsi yang Gina ambil adalah tentang regulasi psikologi santri di pondok Asshiddiqiyah.
Sebelumnya memulai chat WA, Gina menanyakan data tentang pesantren, kemudian wawancara sebentar dan proses selanjutnya adalah memberikan kuesioner kepada santri.
"Kak Gina, kenapa memilih Asshiddiqiyah? ", tanyaku penasaran. Karena rumah Gina di Bekasi, dan sebenarnya ada banyak pondok juga yang dekat dengan daerah tempat tinggalnya.
" Sebenarnya saya sudah mendatangi beberapa pondok di Bekasi, Depok, tapi banyak yang menolak dan ada yang regulasi nya susah. Jadi saya mencoba di Asshiddiqiyah ". Jawab Gina yang menjawab dengan dibantu temannya.
" Iya mis, padahal dia sudah siap dari Desember, tapi belum bisa melakukan penelitian ", ucap teman Gina.
Beberapa percakapan kami:
Gina: Oh iya mis, kalau di pondok ini bimbingan agamanya untuk santri waktu nya kapan saja?
Me: Kalau bimbingan keagamaan di pondok melalui kegiatan pembelajaran di madrasah Diniyah dan kolosal. Adapun keseharian, santri perkamar yang rata- rata berjumlah 15 anak, didampingi wali asuh. Wali asuh ini tugasnya seperti pengganti orang tua.
Gina: kalau kajian khusus, sama ustadzah nya ga ada ya?
Me: Biasanya momen tertentu saja, mengundang ustadzah dari luar. Kalau rutinitas sudah ada kurikulum nya di Madin.
Gina: di pondok, kasus santri apa yang sering terjadi dan mempengaruhi psikologi anak??
Me: Rata-rata santri sini, mondok karena keinginan orang tua, sedikit sekali yang karena keinginan sendiri. Jadi latar belakang orang tua mempengaruhi kondisi anak. Ada anak yg orang tua nya broken, sehingga anaknya sengaja mencari masalah agar dikeluarkan dari pondok.
Gina: Kalau kasus fatal yang pernah terjadi seperti apa?
Me: jaman sekarang, Anak-anak itu biasanya aktif di dunia maya. Jadi ada yang di dunia maya, mereka berantem, dan ketika di dunia nyata mereka lanjut berantemnya. Santri aktif di dunia mayanya ketika liburan atau saat dijenguk orang tua nya.
Pernah terjadi dua santri, berbeda angkatan, berebut pacar di sosmed. Ketika di pondok, saat mereka bertemu, mereka berkelahi secara fisik. Awalnya mereka tidak mengatakan alasan berkelahi, namun karena di desak, barulah mengaku. Dan ujung- ujung nya, kedua anak ini keluar dari pondok.
Terkait anak yg tidak betah di pondok, kami akan lihat dari sisi orang tua. Jika orang tua, bersikeras anaknya agar mondok. Maka, sebisa kami merayu anak tersebut. Namun, jika orang tua lebih membela anaknya, maka kami kembalikan ke orang tua nya.
Selanjutnya, aku mengarahkan Gina untuk menghubungi kepala sekolah SMP, karena koresponden yang dibutuhkan adalah kelas 2 dan 3 SMP.